WhatsApp Image 2018-12-28 at 15.53.59

REFLEKSI AKHIR TAHUN MAHKAMAH AGUNG RI

Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat, Mahkamah Agung menyelenggarakan refleksi akhir tahun yang dipimpin langsung oleh Ketua Mahkamah Agung, prof. Dr. M. Hatta Ali, SH., MH pada Kamis 27 Desember 2018 di Tower lantai 2 Gedung Mahkamah Agung. Acara ini dihadiri oleh beragam media baik dari media elektronik, cetak, dan online. Didampingi oleh para Ketua Kamar dan Juru Bicara Mahkamah Agung, Ketua Mahkamah Agung menyampaikan capaian-capaian Mahkamah Agung selama tahun 2018.

Dalam acara yang disiarkan langsung melalui kanal youtube dan bisa disaksikan langsung oleh aparatur peradilan di Indonesia dan masyarakat pada umumnya tersebut, Hatta Ali mengutarakan Mahkamah Agung memaknai arti penting tahun 2018 sebagai “Era Baru Menuju Badan Peradilan Yang Modern”. Hal ini menurutnya ditandai dengan pemanfaatan teknologi – khususnya teknologi informasi – ditujukan untuk mengatasi kendala-kendala penyelenggaraan peradilan berupa lambatnya penanganan perkara, kurangnya akses keadilan, serta masalah integritas dan profesionalisme aparatur.

Terkait dengan perkara Hatta Ali menjelaskan bahwa pada periode Januari 2018 sampai dengan  21 Desember 2018 Mahkamah Agung menangani sebanyak 18.142 perkara, terdiri dari perkara masuk sebanyak 16.754 perkara ditambah sisa perkara akhir tahun 2017 sebanyak 1.388 perkara. Jumlah perkara yang telah diputus pada periode tahun ini sebanyak 17.351 perkara. Sisa perkara per tanggal 21 Desember 2018 sebanyak 791 perkara. “Jumlah sisa perkara ini merupakan jumlah terendah sepanjang sejarah berdirinya MA.” Tutur Hatta di hadapan pers.

“Namun perlu pula dicatat oleh rekan-rekan jurnalis bahwa tahun 2018 masih tersisa dua hari kerja lagi dan selama itu perkara yang masuk kemungkinan masih akan bertambah terutama perkara-perkara pidana yang status terdakwanya sedang dalam tahanan dan perkara-perkara perdata khusus yang upaya hukumnya dibatasi oleh jangka waktu, olehnya sangat dimungkinkan terjadinya perubahan jumlah sisa perkara sampai hari kerja terakhir pada tahun 2018. Dalam sisa hari kerja tersebut, Hakim Agung dan aparatur peradilan di Mahkamah Agung masih tetap bekerja untuk menyelesaikan perkara-perkara yang ada serta tetap berusaha agar target sisa perkara bisa lebih rendah dari sisa perkara pada tahun 2017. Jumlah riilnya akan kami sampaikan pada Laporan Tahunan Mahkama Agung 27 Februari 2019 mendatang.” Lanjut mantan Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung.

Pada kesempatan yang sama, Hatta Ali menjelaskan Mahkamah Agung terus berinovasi dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Hal tersebut menurut Hatta dibuktikan dengan salah satunya bahwa pada tahun 2018 ini Mahkamah Agung telah meluncurkan e-court. E-court adalah aplikasi yang memberikan kemudahan dalam layanan administrasi perkara secara elektronik, dengan fitur e-filing (pendaftaran perkara secara elektronik), e-payment (pembayaran panjar biaya perkara secara elektronik), dan e-summons (pemanggilan dan pemberitahuan kepada para pihak secara elektronik). Melalui aplikasi e court pendaftaran gugatan/permohonan oleh seorang Advokat dapat dilakukan dari mana saja dan kapan saja tanpa harus datang langsung ke pengadilan, sepanjang advokat tersebut telah tervalidasi sebagai pengguna terdaftar dalam sistem aplikasi e-court. Selain sebagai perwujudan asas peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan, tranformasi teknologi dalam sistem administrasi perkara di pengadilan juga merupakan bentuk dukungan terhadap program prioritas nasional dalam meningkatkan kemudahan berusaha, yaitu penegakkan perjanjian (enforcing contract).

Acara yang disaksikan langsung oleh seluruh satker dibawah Mahkamah Agung RI tak luput dari perhatian seluruh jajaran Pegawai Pengadilan Negeri Sabang. Wakil Ketua, Panitera, Sekretaris, Para Panitera Muda, Para Kasub, PP dan JS serta seluruh Pegawai menyaksikan acara ini secara langsung yang disiarkan di Monitor Informasi yang didapat dari kanal youtube.

WhatsApp Image 2018-12-28 at 15.53.59(1)

Posted in Kegiatan Pengadilan.